

| Datuk Badiuzzaman |
|
|
|
| Written by Datuk Khairil |
| Monday, 09 March 2009 15:53 |
|
Datuk Badiuzzaman lahir di Sunggal (Kecamatan Medan Sunggal Propinsi) tahun 1845. Ayahnya bernama Datuk Abdullah Ahmad Surbakti Sri Indera Pahlawan, dan ibunya bernama Tengku Kemala Inasun Bahorok. Istri Datuk Badiuzzaman bernama Aja Uncu Besar.
Nama Anak-Anak : 1. Datuk Mohd. Munai Surbakti 2. Datuk Mohd. Inggot Surbakti 3. Datuk Ralit Surbakti 4. Datuk Kinu Surbakti 5. Aja Itam Buruk Br. Surbakti 6. Aja Itam Merah Br. Surbakti 7. Aja Loyah Br. Surbakti Nama Saudara : 1. Datuk Mohd.Mahir Surbakti, 2. Datuk Mohd. Lazim Surbakti, 3. Datuk Mohd Darus Surbakti, 4. Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti, 5. Datuk Mohd. Alif, 6. Aja Amah/Olong Br. Surbakti, dan 7. Aja Ngah Haji Surbakti Pendidikan 1. Belajar Bahasa Melayu di Sunggal dengan guru kerajaan di bawah bimbingan pamannya Datuk Mohd. Abdul Jalil Surbakti dan Datuk Mohd. Dini Surbakti. 2. Mendalami ilmu agama Islam di berbagai tempat, seperti di daerah Sunggal, Kota Bangun, dan Aceh. Ia menguasai Bahasa Arab dan Ilmu Tauhid, serta hukum syariat Islam, belajar pada beberapa guru dan ulama, salah satunya bernama Syekh Maulana Muchtar penasihat spiritual kerajaan Sunggal zaman Datuk Abdullah Ahmad Sri Indra Pahlawan Surbakti. 3. Menguasai Bahasa Melayu dengan baik dan Bahasa Karo sebagai bahasa leluhurnya. Datuk Badiuzzazman Sri Indra Pahlawan Surbakti sebagai putra seorang Penguasa Sunggal sangat tekun mempelajari adat istiadat Karo/Melayu di daerah Sunggal, Jejabi, Kinangkung, dan Desa Gajah di bawah bimbingan tokoh-tokoh adat Melayu dan Karo yang sebagian merupakan keturunan dari Ator Surbakti dan Adir Surbakti. 4. Prinsip dasar seorang pemimpin rakyat dan jiwa seorang kesatria/pahlawan oleh ayahnya. Datuk Ahmad Sri Indra Pahlawan Surbakti Raja Urung Sunggal Serbanyaman VIII selalu mengajarinya tentang sifat-sifat seorang pahlawan yang harus dimilikinya, yakni Bila ia bersungut maka ia bersungut dawai Bila ia memandang maka ia bermata kucing Bila ia memegang, maka ia bertangan besi Bila ia merasa maka ia berhati waja Bila ia berkarib setia ia tiada bertukar Bila ia berjuang maka pantang surut ia biar selangkah Bila ia menjumpai maut, mati ia berkapan cindai Pesan itu hendak mengatakan bahwa seorang pahlawan harus bersikap pantang menyerah, pantang surut biar selangkah pun, tetap setia sikap dan prinsip hidupnya. Bila ia mati maka namanya akan tetap harum, karena hidupnya ditaburi dengan semangat pengorbanan, rela berkorban, sikap tanpa pamrih pribadi yang diwujudkan dalam perjuangannya. |

Powered by Joomla!. Designed by: Joomla Theme, free ftp. Valid XHTML and CSS.